Kamis, 26 Maret 2015

Pebruary Trip. Day 2. One Day In Melacca




Hari itu kami mulai pagi-pagi sekali. Kami berangkat dari hostel tempat kami menginap di China Town sekitar pukul 5.30 pagi, karena jam operasional LRT yang pertama adalah pukul 06.00. Kami berangkat dengan LRT dari China Town menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Walaupun namanya terminal tapi begitu masuk ke dalamnya, mungkin setara dengan beberapa bandara di Indonesia, hehe. Sangat teratur, modern, dan bersih.
 
Suasana di dalam TBS


Tiket sudah dibeli di hari sebelumnya dengan harga RM 13,4. Harga tiket dari Kuala Lumpur ke Malaka beragam, berkisar antara RM 10 – 13,4. Tergantung jenis bus dan jam keberangkatan. Saya sendiri merekomendasikan bus KKKL Ekspress atau Transnasional.

Tiket bus KKKL Ekspress dari KL - Melaka
Bus-nya nyaman sekali. Sangat eksklusif. Terdiri dari 2 bangku di sebelah kanan dan 1 bangku di sebelah kiri. Ada juga bus yang masing-masing terdiri dari 2 bangku di sebalah kanan dan kiri, namun di bagian belakang bus, bangku dipisahkan satu-satu. 
 
Di dalam bus KKKL, bangkunya dipisah menjadi 2bangku sebelah kanan dan 1 bangku sebelah kiri
Perjalanan kami tempuh sekitar 2 jam perjalanan dan tiba di Melaka Sentral. Kami menyempatkan diri untuk sraapan di salah satu kedai yang menjual makanan khas Melayu dan Thailand. Saya sendiri saat itu memesan Fried Rice Tom Yum. Setelah mengisi perut, kami lalu naik bus dengan tarif RM 1,5 ke pusat kota Melaka, Mahkota Parade.  Dan langsung turun tepat di depan destinasi wisata kami, di Dataran Quayside.
 
Melaka Sentral

Melaka Sentral

Bus Melaka
Dataran Quayside
Salah satu papan penunjuk jalan di Red Square. Lokasi yang ditunjuk jauh banget yak
Untuk menjelajahi Melaka dalam waktu sehari bukanlah hal yang tidak mungkin karena beberapa destinasi wisata di Melaka terletak dalam satu kompleks atau berdekatan, sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Stadthuys (Balai Kota Melaka)
 
Bus kami pun berhenti di depan Red Square. Letaknya tepat di tengah kota. Dan tempat-tempat destinasi wisata sehari kami pun ada di sekitarnya. Berikut adalah nama-nama tempat yang bisa dikunjungi dalam sehari karena letaknya berdekatan dalam satu wilayah.
 
Red Square

Kompleks Museum

Ini merupakan tempat yang penuh dengan berbagai macam museum. Rasanya apa-apa saja bisa dimuseumkan, terdiri dari Museum Sejarah dan Etnografi, Museum Sastera, Galeri Laksamana Cheng Ho, Museum Pemerintahan Demokrasi, dan Museum Yang Di-Pertua Negeri. Istimewanya lagi, semua bisa dimasuki secara gratis. 

Bagi yang ingin berkeliling daerah Quayside, Kompleks Museum, dan seputaran Stadthuys tapi tidak ingin berjalan kaki, disediakan juga becak hias dengan tarif RM 40. Becak-becak ini dihias sedemikian rupa, mirip odong-odong tapi lebih bagus. Tidak lupa dilengkapi dengan musik-musik yang disetel lumayan keras. Rata-rata sih musik house music, walau ada juga yang saya temui memasang musik yang sangat saya kenal, Sakitnya Tuh Disini-nya Cita Citata. Ternyata dia ngetop juga sampai Melaka ya?
 
Becak hias
Christ Church Melaka
Christ Church Melaka


Menara Jam

Menara Jam Stadthuys

Queen Victoria Fountain


St. Paul Church
Pintu masuk menuju St. Paul, harus naik tangga dulu ya

Di depan monumen St. Paul

St. Paul Chhurch

Suasana di samping gedung

Di dalamnya sering dipakai untuk lokasi foto prewedding

Nisan di dalam gereja...besar banget
Sungai Melaka



Bersih banget yak

Kincir Angin Melaka


Kincir Air Kesultanan Melaka


Benteng Sungai Melaka



Menara Taming Sari


Menara Taming Sari saat dilihat dari atas St. Paul Church

Muzium Samudera

Replika Kapal Portugis  Flor de La Mar. Di dalamnya memuat cerita sejarah tentang Melaka, terutama yang berkaitan di bidang perdagangan dan kelautan. Berada di dalamnya berasa berada di dalam kapal jaman dulu. Biaya masuk untuk turis asing sebesar RM 6.






Jonker Street Walk

Belum lengkap ke Melaka kalau belum berjalan-jalan di Jonker Street Walk. Disini kita bisa mencoba berbagai macam kuliner dan berbelanja. Mulai tampak terlihat ramai saat sore hari sekitar pukul 17.00 dan akan semakin ramai saat malam hari. Untuk yang muslim, perhatikan dahulu sebelum membeli makanan, tapi biasanya penjual akan memberi tahu jika makanan yang mereka jual termasuk halal atau tidak (mengandung babi).

Salah satu icon di Jonker Street Walk

Cafe tempat kami makan

Makan siang kami yang kesorean



Jajanan
Kami makan siang di salah satu kafe di Jonker Street, makan siang yang agak telat sebenarnya, karena saat itu sudah sekitar pukul 18.00. Sayangnya kami tidak sampai terlalu malam di Jonker Street karena kami harus segera kembali ke Kuala Lumpur tepat pukul 20.15 dari Melaka Sentral. Tiket kami beli seharga RM 13,6. Karena kami terburu-buru, kami memutuskan untuk naik taksi saja ke Melaka Sentral, tidak dengan bus karena dikhawatirkan akan jalan memutar dan terkena macet. Beruntung, kami sempat bercakap-cakap dengan sekelompok bapak-bapak yang sedang mengobrol di depan Stadthuys. Salah seorang dari mereka membantu untuk menawar harga taksi. Oh ya, taksi di Melaka lenih banyak menggunakan sistem tawar-menawar (bukan argo), sehingga untuk turis sebaiknya berhati-hati dan tahu berapa kisaran harga yang pantas untuk tarif taksi. Kami dikanakan biaya RM 15 dari Stadthuys ke Melaka Sentral. Cukup murah menurut saya, tidak terlalu beda jauh dengan harga taksi di Indonesia.
Tiket Bus Transnasional dari Melaka - KL

Bus yang kami tumpangi pulang berangkat tepat pukul 20.15. Kami sengaja memilih jam yang tidak terlalu malam agar tidak kehabisan jadwal LRT. Jam operasional terakhir adalah pukul 23.00. Tarif LRT bergantung jauh dekatnya tujuan, sekitar RM 1,2 per stasiun pemberhentian. Hampir pukul 00.00 kami sampai di penginapan. Kami segera beristirahat untuk persiapan perjalanan besok paginya. Capek tapi seneng.

...to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar