Selasa, 30 Juni 2015

Traveller Galau dan Cemen – Eksplore Lumajang




Tergoda oleh foto seorang teman di Puncak B29 di Lumajang, akhirnya saya pun tergerak untuk melangkahkan kaki kesana. Saya dan teman-teman sebanyak 8 orang pergi ke Lumajang pada awal bulan Mei. Dengan pertimbangan pada saat itu, hujan sudah mulai jarang turun, walaupun kenyataannya musim kemarau tahun ini di tempat saya tergolong kemarau basah, jadi terkadang masih turun hujan di beberapa tempat. Kami pergi 2 hari 2 malam, dengan malam pertama kami isi di jalan. Kami berangkat malam hari dari Surabaya dengan mobil sewaan. Tujuan kami Kabupaten Lumajang dengan beberapa destinasi. Kita mulai secara runtut saja ya.


Kompleks Goa Tetes dan Coban Sewu


Kami berangkat dari rumah teman kami di daerah Pasirian – Lumajang agak siang. Berhubung perjalanan macet dari Surabaya ke Lumajang yang mengakibatkan planning sampai malam hari jadi  molor sampai subuh. Kami sampai di daerah Pronojiwo Lumajang sekitar 1 jam kemudian. Kami menuruni jalan yang lumayan curam untuk menuju Goa Tetes.
Jalan masuk ke kawasan Goa Tetes

Sudah tengah hari saat kami mencapai air terjun mini di bawah Goa Tetes. Berhubung destinasi kami masih banyak dan kami sudah sangat lelah (cemen banget yak), maka rencana untuk meneruskan perjalanan ke Coban Sewu dengan berat hati kami skip. Kami pun bergegas naik menuju tempat dimana mobil kami diparkir. 
Tanda larangan masuk Tumpak Sewu jjika cuaca buruk

Tangga air yang cantik

Lereng di kompleks Goa Tetes

Saling membantu itu wajib hukumnya

Goa Tetes (dari bawah)


Dalam perjalanan pulang, kami mendengar kabar bahwa ada seseorang yang mengalami kecelakaan di Coban Sewu saat itu. Esok harinya baru kami tahu bahwa korban ternyata laki-laki, masih mahasiswa, dan tewas terjatuh dari ketinggian saat mencoba mengambil foto selfie. Merinding rasanya membayangkan dia terjatuh dari ketinggian yang sebegitu rupa.


Gladak Perak


Sepulang dari Goa Tetes, kami kembali menuju Pasirian. Saat perjalanan pulang tersebut, kami mampir di Gladak Perak. Ini adalah jembatan yang dibangun di atas Sungai Besuk Sat yang sudah ada sejak jaman Belanda. Sungai ini merupakan sungai aliran lahar dingin muntahan dari Gunung Semeru. Kami pun sejenak beristirahat disitu sambil menikmati tahu goreng yang diberi bumbu petis. Katanya sih memang juaranya disitu. Setelah cukup beristirahat, kami kembali pulang ke rumah teman di Pasirian.


Sungai aliran lahar dingin Semeru

Jalan yang lengang



(Rencananya) Sunset di Puncak B29


Sore hari setelah cukup beristirahat di rumah, kami berencana untuk langsung menuju kawasan Argosari Lumajang, tak lain tak bukan untuk mengejar sunset di Puncak B29. Namun apalah daya, karena kurangnya persiapan yang matang dan waktu yang memang sudah molor dari awal, sampai di kaki bukit, kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Pertimbangannya saat itu sudah memasuki waktu Maghrib dan pastinya begitu sampai puncak pastilah sunset itu sudah tidak terkejar. Jadilah sore itu kami bak traveller galau yang mondar-mandir Pasirian – Argosari tanpa hasil, hehehe



Sunrise di Puncak B29
  

Untuk kali ini, kami tidak mau gagal lagi karena sebenarnya inilah tujuan utama kami ke Lumajang, desa di atas awan di B29. Kami berangkat sekitar pukul 2 pagi dari Pasirian Lumajang. Kami sampai di Argosari, tempat kami memarkir mobil kurang dari pukul 3 pagi. Kami, yang notabene traveller cemen memilih untuk naik ojek sampai ke puncak, berhubung kalau ditempuh dengan jalan kaki bisa sampai 2 jam lebih yang artinya lewat pulalah sunrise itu. Setelah tawar-menawar dengan mas-mas ojek, disepakati harga 75rb untuk desa ke puncak B29 pulang-pergi. Kelak saya akan tahu, harga segitu terhitung murah untuk perjalanan yang nanti akan saya lewati.

Kami pun mulai naek ke atas boncengan satu-persatu. Ada sih yang sampe bonceng 3 (cowok-cowoknya nih, nekat bener). Belum ketemu jalan yang berbatu-batu, baru sekesar jalan yang berkelok-kelok, saya diam-diam mennagis di boncengan belakang. Mas-mas ojeknya ngebut banget yak. Entah karena dia sudah terbiasa atau memang begitulah seharusnya menaiki puncak dengan kecepatan tinggi, yang jelas saat itu saya merasa takut sekali.


Belum selesai sampai disitu. Akhirnya kami bertemu dengan banyak orang yang memiliki tujuan yang sama, yaitu Puncak B29 dan Puncak B30. Ada para biker, ada yang ojeker seperti kami, hehe. Sampailah kami di jalan yang mulai bertekstur tanah licin, banyak motor yang terpaksa harus dituntun karena terlalu menanjak atau selip. Saya sendiri memilih untuk turun dari motor dan meneruskan perjalanan dengan berjalan sampai jalan tidak terlalu menanjak lagi. Ya ampun, saking takutnya saya dengan kondisi saat itu, air mata saya makin menjadi, benar-benar cemen. Tapi jangan sampai mas ojeknya tahu deh, selain tengsin juga takut malah mengganggu konsentrasinya waktu nyetir.

Saat berjalan kaki itulah, baru saya sadari pemandangan indah di atas saya. Milky way. Bintang-bintang yang terang dengan jumlah tak terhitung di atas saya membuat ketakutan saya akan jalan yang sulit sedikit teralihkan. Sayang saya tidak sempat memotret saat itu. Saya sempat berhenti di desa terakhir untuk sekedar numpang shalat subuh, rasanya bersyukur bisa sampai disitu dengan selamat. Sementara saya shalat subuh, mas ojek saya memutuskan untuk mengurangi angin pada bannya, mungkin supaya lebih mudah jalannya ya?

 
Setelah shalat subuh, saya meneruskan perjalanan. Tak lama kemudian, sampailah kami di Puncak B29 sekitar pukul 04.30. Masih lumayan gelap sih, tapi awan sudah ngumpul di bawah kaki. Semakin terang, semakin terlihat. Ada beberapa orang yang tidak puas di B29 dan melanjutkan perjalanan hingga B30. Saat melihat pemandangan seperti itu, saya sedikit lupa dengan rasa takut yang sempat saya alami beberapa saat yang lalu. Hanya tinggal rasa syukur dan kagum akan ciptaan Tuhan. Dari Puncak B29 itu saya juga bisa melihat Gunung Bromo dari kejauhan. Subhanallah.
 
Landscape subuh

Masih gelap

Matahari pun mulai menampakkan sinarnya



Tawa saat wefie, seperti nggak pernah bergelimang air mata sebelumnya

Bersama geng biker

Sunrise di B29

Pura Mandara Giri Semeru 


Setelah kembali turun melewati jalan yang berbeda dari jalan berangkat tadi, sampailah kami kembali ke desa. Kami lalu menuju Pura Senduro. Memasuki pura ini, sejenak saya berasa disorientasi. Rasanya bukan seperti di Lumajang lagi, tetapi mirip sekali dengan Bali. Pura ini bernama Pura Mandara Giri Semeru, dengan luas sekitar 2 hektar, yang membuat kami memutuskan untuk berdiam diri saja di pelataran. Alasannya sih karena masih jetlag habis turun gunung, haha...cemen. Belum tau juga sih kalau di dalam ternyata ada air suci, tapi mungkin itu khusus umat Hindu yang ingin beribadah, jadi buat kita-kita yang beragama non Hindu cukup meikmati arsitektur dan pemandangan pura-nya saja ya.







Ranu Klakah dan Ranu Pakis


Kali ini,sekaligus dalam perjalanan pulang, kami mampir sebentar ke Ranu Klakah dan Ranu Pakis. Sebenarnya sih mau mampir lagi ke Ranu Bedali, tapi karena melihat dua ranu yang (jujur menurut saya) biasa banget, jadi dicukupkan hanya dua ranu saja dan kami pun segera bergegas pulang kembali ke Surabaya.







....WHAT'S NEXT?....